
Sebagai sesama pemilik UMKM, saya tahu betul rasanya ketika kita sudah berhasil membuat produk yang bagus, tetapi kesulitan saat harus menuangkannya ke dalam kata-kata.
Sering kali, calon pembeli yang mampir ke toko online kita masih bingung dan bertanya-tanya: “Ini sebenarnya cocok untuk siapa?”, “Bahannya apa?”, “Apa manfaatnya?”, atau “Bedanya dengan produk lain apa?”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini sering menjadi tanda bahwa informasi produk yang kita tampilkan belum cukup membantu calon pembeli memahami apa yang mereka pertimbangkan.
Kenyataannya, menulis deskripsi produk yang informatif satu per satu secara manual memang menyita waktu. Apalagi ketika variasi produk mulai bertambah, sementara perhatian kita sudah terbagi untuk operasional, keuangan, pemasaran, dan pelayanan pelanggan.
Di sinilah pemanfaatan AI untuk membuat deskripsi produk UMKM masuk akal sebagai alat bantu operasional.
Berdasarkan pengalaman praktis saya, kita tidak perlu menggunakan AI untuk mengarang atau menggantikan keunikan produk yang sebenarnya sudah kita pahami. AI justru jauh lebih efektif ketika digunakan untuk merapikan poin-poin informasi mentah yang sudah kita miliki, lalu mengubahnya menjadi susunan deskripsi yang lebih terstruktur, jelas, dan mudah dipahami calon pembeli.
Tetapi ada satu batas yang menurut saya penting: AI hanya boleh bekerja dari fakta produk yang benar-benar kita berikan.
Kalau kita hanya menulis:
“Buatkan deskripsi produk yang menarik dan menjual.”
AI bisa menghasilkan tulisan yang terdengar bagus, tetapi berisiko menambahkan manfaat, bahan, spesifikasi, atau klaim yang sebenarnya tidak pernah kita berikan.
Karena itu, saya lebih memilih proses yang sederhana: kumpulkan fakta produknya terlebih dahulu, pahami informasi yang paling dibutuhkan pelanggan, tentukan konteks penggunaannya, lalu gunakan AI untuk membantu menyusun bahasa.
Prinsipnya:
Fakta produk → kebutuhan pelanggan → fitur dan manfaat → channel → draft AI → verifikasi → perbaiki.
Dengan alur ini, AI membantu mempercepat pekerjaan menulis tanpa mengambil alih pengetahuan kita tentang produk sendiri.
Berikut tujuh tahap yang dapat digunakan untuk membuat deskripsi produk yang lebih jelas, akurat, dan tetap terasa relevan bagi calon pembeli.
1. Mulai dari Fakta Produk, Bukan dari Kalimat Promosi
Sebelum meminta AI menulis apa pun, saya mulai dari informasi produk yang benar-benar saya ketahui.
Untuk setiap produk, informasi dasarnya bisa berbeda. Namun biasanya saya menyiapkan beberapa hal seperti:
- nama produk;
- jenis atau kategori;
- bahan;
- ukuran atau kapasitas;
- varian;
- fungsi;
- cara penggunaan;
- isi paket;
- cara perawatan;
- serta batasan atau informasi penting lainnya.
Jika produk mempunyai garansi, sertifikasi, kompatibilitas tertentu, atau klaim teknis, informasi tersebut juga harus berasal dari data yang benar-benar dapat diperiksa.
Saya menghindari perintah seperti:
“Buatkan deskripsi produk yang menarik, premium, dan meyakinkan.”
Instruksi seperti itu terlalu terbuka. AI bisa saja menambahkan kata-kata yang terdengar bagus, tetapi tidak berasal dari fakta produk.
Lebih aman memberikan bahan mentah yang jelas, kemudian meminta AI merapikan cara penyampaiannya.
2. Tentukan Informasi yang Paling Dibutuhkan Pelanggan
Deskripsi produk bukan hanya tempat menumpuk spesifikasi.
Calon pembeli biasanya ingin mengetahui apakah produk tersebut relevan dengan kebutuhan mereka.
Karena itu, saya melihat kembali pertanyaan yang sering muncul dari pelanggan.
Misalnya:
- produk ini cocok untuk siapa;
- ukurannya seberapa besar;
- bahannya apa;
- cara penggunaannya bagaimana;
- apa yang termasuk dalam paket;
- apakah ada pilihan ukuran atau warna;
- dan apa perbedaannya dengan varian lain.
Pertanyaan berulang seperti ini bisa menjadi tanda bahwa informasi tersebut perlu muncul lebih jelas dalam deskripsi.
Jika kita sudah mempunyai hasil riset pelanggan, informasi tersebut juga dapat membantu menentukan detail mana yang paling penting bagi calon pembeli.
AI kemudian dapat membantu mengurutkan informasi berdasarkan kebutuhan pembaca. Namun AI tidak seharusnya menciptakan kebutuhan pelanggan yang belum pernah kita temukan hanya agar deskripsi terasa lebih persuasif.
3. Bedakan Fitur dan Manfaat tanpa Mengarang Klaim
Salah satu pekerjaan yang cukup cocok dibantu AI adalah menerjemahkan fitur teknis menjadi bahasa yang lebih mudah dipahami.
Misalnya sebuah produk memiliki fitur:
“Kapasitas 1 liter.”
Fitur tersebut bisa dijelaskan menjadi manfaat praktis jika memang konteks penggunaannya mendukung.
Contohnya:
“Kapasitas 1 liter, cukup untuk menampung kebutuhan minum selama beberapa jam tanpa sering mengisi ulang.”
Namun hubungan antara fitur dan manfaat harus tetap masuk akal.
AI tidak boleh mengubah informasi:
“Mengandung bahan X.”
menjadi:
“Terbukti meningkatkan kesehatan dan daya tahan tubuh.”
jika klaim tersebut tidak pernah diberikan dan tidak mempunyai dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Saya menggunakan AI untuk membantu menjawab pertanyaan:
“Apa arti fitur ini bagi pengguna?”
bukan:
“Klaim apa yang bisa dibuat agar produk terlihat lebih menarik?”
4. Sesuaikan Struktur dengan Tempat Deskripsi Akan Digunakan
Deskripsi produk tidak selalu digunakan dalam konteks yang sama.
Halaman produk di website dapat memberikan ruang lebih panjang untuk menjelaskan detail. Marketplace mungkin membutuhkan informasi yang lebih ringkas dan terstruktur. Katalog dapat membutuhkan format berbeda lagi.
Karena itu, sebelum meminta AI membuat draft, saya menentukan terlebih dahulu di mana teks tersebut akan digunakan.
Struktur sederhananya bisa seperti:
- ringkasan produk;
- manfaat utama;
- fitur atau spesifikasi;
- cara penggunaan;
- varian atau isi paket;
- informasi penting sebelum membeli.
Tidak semua produk membutuhkan semua bagian tersebut.
Produk sederhana tidak perlu dipaksa mempunyai deskripsi panjang hanya karena AI mampu membuatnya.
Sebaliknya, produk yang membutuhkan pertimbangan teknis mungkin memang memerlukan detail lebih lengkap.
Deskripsi produk juga berbeda fungsi dengan caption jualan. Deskripsi membantu pelanggan memahami produknya, sedangkan caption dapat menggunakan informasi tersebut untuk komunikasi promosi yang lebih kontekstual.
5. Gunakan AI untuk Membuat Draft dari Data yang Sudah Diverifikasi
Setelah fakta produk, kebutuhan pelanggan, manfaat, dan konteks penggunaannya tersedia, barulah AI mulai membantu menyusun draft.
Pada tahap ini saya biasanya meminta AI untuk:
- mengurutkan informasi;
- mengurangi pengulangan;
- menyederhanakan istilah yang terlalu teknis;
- membuat struktur lebih mudah dipindai;
- dan menyesuaikan gaya bahasa dengan karakter bisnis.
Saya juga meminta AI untuk tidak menambahkan informasi baru.
Ini penting karena AI sangat mudah menghasilkan kalimat yang terdengar logis. Masalahnya, terdengar logis bukan berarti benar.
Misalnya kita hanya memberikan informasi:
“Tas dibuat dari kanvas tebal dengan dua kompartemen.”
AI tidak boleh otomatis menambahkan:
“Tahan air, sangat kuat untuk membawa beban berat, dan cocok digunakan bertahun-tahun.”
kecuali fakta tersebut memang sudah diberikan dan dapat dibuktikan.
Prinsip akurasi ini juga relevan dalam konteks Google Merchant Center. Google meminta deskripsi menggambarkan produk secara akurat, sesuai dengan landing page, dan hanya berisi informasi yang relevan dengan produk. Google juga melarang teks promosi seperti gimmick atau informasi penjualan di atribut deskripsi produk. Google Merchant Center.
6. Fact-Check Setiap Klaim Sebelum Dipublikasikan
Setelah draft selesai, pekerjaan berikutnya bukan langsung menyalin dan mempublikasikannya.
Saya melakukan pemeriksaan fakta.
Beberapa bagian yang perlu diperiksa antara lain:
- nama dan tipe produk;
- bahan;
- ukuran;
- kapasitas;
- varian;
- fungsi;
- kompatibilitas;
- isi paket;
- garansi;
- sertifikasi;
- serta klaim manfaat.
Periksa juga kata-kata yang terlalu absolut seperti:
- “100% aman”;
- “paling bagus”;
- “pasti berhasil”;
- “terbaik”;
- atau “tanpa risiko”.
Kalimat seperti itu bisa muncul hanya karena AI mencoba membuat tulisan terdengar lebih meyakinkan.
Saya lebih memilih deskripsi yang akurat dan sedikit lebih sederhana daripada tulisan yang terlihat hebat tetapi menimbulkan ekspektasi yang tidak sesuai dengan kondisi produk.
Jika informasi produk digunakan berulang kali untuk berbagai pekerjaan AI, menyimpannya dalam knowledge base dapat membantu menjaga konsistensi data yang digunakan.
7. Perbaiki Deskripsi dari Pertanyaan Pelanggan
Deskripsi produk tidak harus dianggap selesai selamanya setelah dipublikasikan.
Saya justru melihat pertanyaan pelanggan sebagai salah satu sumber evaluasi terbaik.
Jika banyak calon pembeli terus menanyakan:
“Ukurannya berapa?”
padahal informasi tersebut sudah ada, mungkin penempatannya kurang terlihat.
Jika pelanggan sering bertanya:
“Produk ini cocok untuk penggunaan apa?”
mungkin deskripsinya terlalu fokus pada spesifikasi.
Jika pelanggan salah memahami isi paket, informasi tersebut perlu dibuat lebih eksplisit.
AI dapat membantu mengelompokkan pertanyaan-pertanyaan tersebut dan menunjukkan informasi mana yang sering belum dipahami.
Dari situ, deskripsi dapat diperbarui berdasarkan kebutuhan nyata pelanggan, bukan hanya berdasarkan asumsi kita sendiri.
Framework Membuat Deskripsi Produk dengan AI
Jika tujuh tahap tadi diringkas, alurnya menjadi:
Fakta produk → kebutuhan pelanggan → fitur dan manfaat → channel → draft AI → fact-check → perbaiki.
AI membantu menyusun bahasa dan struktur. Informasi produknya tetap berasal dari bisnis.
Dengan cara ini, kita dapat menghemat waktu tanpa menyerahkan akurasi produk kepada AI.
Master Prompt untuk Membuat Deskripsi Produk UMKM
Prompt berikut digunakan setelah informasi produk sudah disiapkan. Jika sebuah informasi belum diketahui, jangan meminta AI menebaknya.
Saya ingin membuat deskripsi produk berdasarkan informasi faktual yang saya berikan.
Informasi produk:
Nama produk: [isi]
Jenis/kategori: [isi]
Bahan: [isi jika relevan]
Ukuran/kapasitas: [isi jika relevan]
Varian: [isi jika ada]
Fungsi utama: [isi]
Cara penggunaan: [isi jika relevan]
Isi paket: [isi jika relevan]
Cara perawatan: [isi jika relevan]
Garansi/sertifikasi: [isi hanya jika benar dan terverifikasi]
Target pengguna:
[jelaskan siapa yang biasanya menggunakan atau membeli produk berdasarkan informasi yang sudah diketahui]
Pertanyaan atau kebutuhan pelanggan yang sudah diketahui:
[isi berdasarkan percakapan, data, atau pengalaman nyata]
Fitur produk:
[isi]
Manfaat yang sudah dapat dibuktikan:
[isi]
Channel penggunaan:
[website / marketplace / katalog / lainnya]
Gaya bahasa:
[misalnya sederhana, profesional, hangat, teknis ringan]
Tugas:
- Susun informasi produk berdasarkan prioritas kebutuhan calon pembeli.
- Pisahkan fitur dan manfaat secara jelas.
- Buat draft deskripsi yang natural, mudah dipindai, dan sesuai dengan channel yang saya tentukan.
- Gunakan hanya fakta yang saya berikan.
- Tandai informasi yang kurang tetapi penting bagi calon pembeli.
- Buat daftar klaim atau detail yang masih perlu saya verifikasi sebelum dipublikasikan.
- Hapus pengulangan dan kalimat promosi yang tidak memberikan informasi baru.
Batas:
- Jangan mengarang bahan, ukuran, kapasitas, spesifikasi, kompatibilitas, varian, stok, garansi, atau isi paket.
- Jangan menciptakan manfaat yang tidak saya berikan.
- Jangan mengarang sertifikasi, penghargaan, testimoni, atau hasil pengujian.
- Jangan menambahkan klaim kesehatan, keamanan, performa, atau efektivitas tanpa evidence yang saya berikan.
- Jangan menggunakan kata seperti “terbaik”, “pasti”, “100% aman”, atau klaim absolut lain kecuali memang sudah terbukti dan saya berikan.
- Jika informasi penting belum tersedia, tandai sebagai “Perlu Verifikasi”.
Format output:
Ringkasan produk → Manfaat utama → Fitur/spesifikasi → Cara penggunaan → Informasi penting → Perlu verifikasi → Draft final.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Menggunakan AI
1. Memberikan Informasi Produk yang Terlalu Sedikit
Jika kita hanya memberikan nama produk, AI akan mempunyai terlalu banyak ruang untuk berasumsi.
Semakin penting informasi tersebut bagi keputusan pembelian, semakin baik jika faktanya diberikan secara eksplisit.
2. Membiarkan AI Mengarang Manfaat
Manfaat harus mempunyai hubungan dengan fitur dan kondisi penggunaan yang sebenarnya.
Kalimat yang menarik tetapi tidak dapat dibuktikan dapat menimbulkan ekspektasi yang salah.
3. Menggunakan Satu Deskripsi untuk Semua Channel
Informasi inti produknya bisa sama, tetapi cara penyajiannya dapat berbeda.
Website, marketplace, katalog, dan materi konten marketing mempunyai konteks pembaca dan ruang yang berbeda.
4. Langsung Mempublikasikan Output AI
Tulisan yang terlihat rapi tetap harus diperiksa.
Satu spesifikasi yang salah atau klaim yang berlebihan bisa lebih merugikan daripada deskripsi yang sederhana tetapi akurat.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Informasi apa yang perlu diberikan kepada AI sebelum membuat deskripsi produk?
Mulailah dari fakta produk: fungsi, bahan, ukuran, varian, fitur, cara penggunaan, isi paket, dan detail penting lain yang relevan. Tambahkan kebutuhan pelanggan yang memang sudah diketahui serta channel tempat deskripsi akan digunakan.
Apakah deskripsi produk dari AI boleh langsung dipublikasikan?
Sebaiknya tidak. Periksa kembali seluruh spesifikasi, manfaat, klaim, garansi, sertifikasi, dan informasi lain yang dapat memengaruhi keputusan pembelian. AI membantu membuat draft, bukan menjadi sumber fakta produk.
Apakah satu deskripsi bisa digunakan di website dan marketplace?
Informasi inti dapat digunakan kembali, tetapi struktur dan panjangnya sebaiknya disesuaikan. Website bisa menyediakan konteks lebih lengkap, sementara marketplace biasanya membutuhkan informasi yang lebih cepat dipindai dan mengikuti aturan platform yang digunakan.
Deskripsi yang Baik Dimulai dari Mengenal Produk Sendiri
Menurut saya, AI membuat pekerjaan menulis deskripsi produk jauh lebih ringan ketika bahan dasarnya sudah tersedia.
Kita tidak perlu lagi memulai dari layar kosong. Kita cukup menyiapkan fakta produk, pertanyaan pelanggan, fitur, manfaat, dan detail penting lainnya, lalu AI membantu merapikannya menjadi teks yang lebih mudah dibaca.
Tetapi bagian yang paling penting tetap berasal dari kita sebagai pemilik usaha.
Kita yang tahu bagaimana produk dibuat, apa yang memang bisa dilakukan produk tersebut, apa batasannya, dan pertanyaan apa yang paling sering muncul dari pelanggan.
AI bisa membantu menemukan kata-kata. Kepercayaan pelanggan tetap dibangun dari informasi yang benar.
Bagian mana yang paling sulit ketika Anda menulis deskripsi produk sendiri? Menentukan manfaat, memilih informasi yang penting, menjelaskan spesifikasi, atau membuat tulisannya tidak terdengar terlalu promosi?
Ceritakan pengalaman Anda di kolom komentar. Pengalaman sesama UMKM sering menunjukkan bahwa produk yang sederhana sekalipun bisa membutuhkan cara penjelasan yang sangat berbeda agar mudah dipahami pelanggan.