
Saya beberapa kali melihat pola yang sama ketika membicarakan perkembangan kecerdasan buatan.
Teknologinya berkembang sangat cepat. Manfaatnya nyata. Tetapi ketika sebuah teknologi baru mulai ditempatkan hampir di setiap produk digital, saya merasa kita juga perlu bertanya:
Apakah teknologi tersebut benar-benar menyelesaikan masalah, atau kita hanya takut terlihat tertinggal?
Pertanyaan ini semakin relevan ketika AI masuk langsung ke mesin pencari.
Bagi pemilik UMKM, perubahan tersebut mungkin terlihat seperti urusan perusahaan teknologi besar, publisher, atau praktisi SEO.
Menurut saya tidak.
Jika bisnis Anda mempunyai website, membuat artikel, membangun brand melalui Google, atau berharap calon pelanggan menemukan produk dan layanan Anda melalui pencarian organik, perubahan pada cara Google memberikan jawaban juga dapat mengubah cara pelanggan menemukan bisnis Anda.
Dari mencari website menjadi mendapatkan jawaban
Bayangkan seseorang mempunyai usaha kecil dan ingin mengetahui:
“Bagaimana menggunakan AI untuk follow-up pelanggan?”
Dulu perjalanan pencariannya relatif mudah dipahami.
Ia mengetik pertanyaan di Google. Google menampilkan sejumlah hasil. Ia memilih artikel, masuk ke website, membaca, dan mengenal siapa yang menulisnya.
Kemudian mungkin ia membaca artikel lain, melihat produk, menyimpan website tersebut, atau menghubungi bisnis di belakangnya.
Sekarang sebagian perjalanan tersebut dapat berhenti lebih awal.
Google dapat menampilkan ringkasan berbasis AI langsung di halaman pencarian. Pengguna mendapatkan penjelasan, merasa pertanyaannya telah terjawab, kemudian pergi tanpa membuka satu pun website.
Dari sudut pandang pengguna, ini efisien.
Tetapi dari sudut pandang pemilik website, ada perubahan penting:
Kita bisa berkontribusi terhadap sebuah jawaban tanpa selalu menerima kunjungan dari orang yang membaca jawaban tersebut.
Apakah penurunan klik benar-benar terjadi?
Ada evidence yang perlu kita perhatikan.
Pew Research Center menganalisis 68.879 pencarian Google dari panel 900 pengguna di Amerika Serikat pada Maret 2025.
Menurut Pew Research Center, ketika AI summary muncul, pengguna dalam studi tersebut mengeklik hasil pencarian tradisional pada sekitar 8% kunjungan, dibanding sekitar 15% ketika AI summary tidak muncul.
Klik langsung terhadap sumber yang dicantumkan di dalam AI summary terjadi pada sekitar 1% kunjungan yang memiliki ringkasan AI.
Angka tersebut tidak berarti seluruh website akan kehilangan separuh trafiknya. Penelitian ini mempunyai konteks, negara, periode, dan metodologi tertentu.
Namun ada satu sinyal yang menurut saya sulit diabaikan:
AI-generated answer dapat mengubah perilaku klik.
Google mempunyai perspektif berbeda.
Google mengatakan total volume klik organik yang dikirim Search ke website relatif stabil secara tahunan. Google juga mengatakan kualitas rata-rata klik meningkat dan pengguna melakukan lebih banyak pencarian setelah fitur AI berkembang.
Kita tidak perlu memilih salah satu narasi lalu menganggap pihak lain pasti salah.
Data Pew mengamati perilaku sampel pengguna tertentu. Google melihat data internal platform dalam skala yang jauh lebih besar.
Bagi pemilik UMKM, pertanyaan praktisnya bukan: “Siapa yang menang dalam perdebatan ini?”
Pertanyaannya adalah: “Apakah cara pelanggan menemukan bisnis saya mulai berubah?”
Jika perubahan tersebut ingin dilihat dari sisi optimasi pencarian, saya juga membahas fondasinya dalam panduan AI untuk SEO UMKM, termasuk bagaimana AI dapat membantu meningkatkan visibilitas online tanpa menjadikan tools sebagai tujuan utama.
Bagi UMKM, masalahnya bukan sekadar trafik
Di sinilah saya melihat perbedaan antara publisher dan UMKM.
Publisher yang hidup dari iklan dapat mempunyai hubungan yang relatif langsung: lebih sedikit pageview dapat berarti lebih sedikit peluang monetisasi.
UMKM berbeda.
Tujuan akhir website biasanya bukan hanya menghasilkan klik. Kita ingin seseorang:
- menemukan bisnis;
- memahami apa yang kita tawarkan;
- mempercayainya;
- membandingkan pilihan;
- menghubungi kita; atau
- membeli sesuatu.
Karena itu, muncul di dalam jawaban AI tanpa mendapatkan klik tidak otomatis berarti tidak mempunyai nilai.
Jika nama brand disebut secara akurat sebagai sumber yang relevan, ada kemungkinan pengguna tetap mengenal brand tersebut.
Tetapi kita juga tidak boleh berasumsi bahwa impression atau citation sama dengan customer.
Mention bukan lead.
Citation bukan sale.
Impression bukan conversion.
Inilah sebabnya saya merasa UMKM tidak boleh hanya bertanya:
“Apakah website saya muncul di AI?”
Kita juga harus bertanya:
“Nilai bisnis apa yang benar-benar dihasilkan dari visibilitas tersebut?”

Untuk melihat perbedaannya secara lebih sederhana, alur berikut menunjukkan bagaimana visibilitas di AI Search baru mempunyai nilai bisnis ketika bergerak dari ditemukan, disebut, dan dikunjungi hingga menghasilkan kepercayaan serta tindakan.
AI Search untuk UMKM: visibilitas adalah titik awal, bukan hasil akhir. Mention, citation, dan impression perlu dihubungkan dengan trafik, kepercayaan, lead, dan hasil bisnis.
Risiko sebenarnya: UMKM kehilangan kesempatan untuk dikenal
Misalnya sebuah usaha mempunyai artikel sangat baik yang menjawab masalah tertentu.
Sebelumnya artikel tersebut mungkin menjadi pintu pertama menuju bisnis.
Seseorang menemukan artikel, masuk ke website, melihat siapa penulisnya, membaca halaman About, menemukan produk, kemudian beberapa hari kemudian kembali dan melakukan pembelian.
Jika jawaban yang dibutuhkan pengguna selesai di halaman pencarian, sebagian perjalanan pengenalan brand tersebut dapat menghilang.
Inilah risiko yang menurut saya lebih relevan untuk UMKM daripada sekadar angka trafik.
Website bukan hanya tempat menyimpan artikel.
Website juga merupakan tempat kita mengendalikan konteks brand.
Website juga merupakan tempat kita mengendalikan konteks brand.
Kita menentukan bagaimana bisnis diperkenalkan. Kita dapat menunjukkan pengalaman, menjelaskan produk, menampilkan bukti, menyampaikan batasan, dan membuat jalur yang jelas menuju tindakan berikutnya.
Karena itu, konteks website juga berkaitan erat dengan cara bisnis membangun identitas dan komunikasi. Jika Anda ingin mendalaminya dari sisi praktik, saya membahas penggunaan AI untuk membangun branding UMKM, mulai dari identitas hingga tone komunikasi.
Di platform pihak ketiga, kontrol tersebut selalu lebih kecil.
Konten generik akan semakin sulit menjadi pembeda
Ada konsekuensi lain yang menurut saya bahkan lebih penting.
AI sangat baik dalam melakukan sintesis terhadap informasi yang sudah tersedia.
Karena itu, konten seperti:
- “10 manfaat digital marketing”;
- “5 keuntungan menggunakan AI”;
- “apa itu customer service”; atau
- artikel yang hanya merangkum informasi umum
akan semakin mudah digantikan oleh jawaban sintetis.
Pengguna tidak selalu membutuhkan kunjungan ke website untuk mendapatkan jawaban seperti itu.
Ini bukan berarti UMKM harus berhenti membuat konten informasional.
Tetapi fungsi kontennya perlu berkembang.
Untuk proses produksinya, panduan membuat konten marketing UMKM membahas bagaimana AI dapat membantu dari tahap ide sampai publikasi, tanpa menghilangkan konteks, pengalaman, dan pertimbangan bisnis yang seharusnya tetap berasal dari manusia.
Konten yang menurut saya semakin bernilai adalah sesuatu yang sulit diproduksi hanya dengan merangkum internet:
Konten yang menurut saya semakin bernilai adalah sesuatu yang sulit diproduksi hanya dengan merangkum internet:
- pengalaman menjalankan bisnis;
- hasil eksperimen nyata;
- kesalahan yang pernah terjadi;
- proses kerja;
- perbandingan sebelum dan sesudah;
- observasi pelanggan;
- data yang memang kita miliki;
- foto atau dokumentasi asli;
- pendapat yang mempunyai alasan; dan
- keputusan yang lahir dari pengalaman langsung.
AI dapat membantu menyusun dan menjelaskan semua itu.
Tetapi sumber pengalaman tersebut tetap berasal dari manusia dan bisnis yang menjalankannya.
Di sinilah saya melihat bahaya FOMO AI
Saya menggunakan istilah “FOMO AI” sebagai interpretasi, bukan sebagai klaim mengenai motif internal perusahaan tertentu.
Saya tidak berada di ruang rapat Google, Microsoft, OpenAI, atau perusahaan teknologi lainnya.
Tetapi tekanan kompetitifnya mudah terlihat.
Ketika satu perusahaan menghadirkan kemampuan AI baru, perusahaan lain mempunyai insentif kuat untuk menunjukkan bahwa mereka juga memiliki kemampuan serupa.
Search menggunakan AI.
Browser menggunakan AI.
Office suite menggunakan AI.
Customer service menggunakan AI.
Marketing tools menggunakan AI.
Kemudian tekanan yang sama bisa turun sampai ke pemilik UMKM:
“Kompetitor memakai AI. Saya juga harus memakai AI.”
Menurut saya, di sinilah kita harus berhati-hati.
FOMO yang terjadi di tingkat perusahaan teknologi tidak perlu kita wariskan menjadi FOMO di tingkat usaha kecil.
UMKM tidak membutuhkan AI di setiap bagian bisnis.
Kita membutuhkan teknologi pada bagian yang benar-benar mempunyai masalah yang layak diselesaikan. Karena itu, proses memilih tools AI yang tepat sebaiknya dimulai dari kebutuhan bisnis, bukan dari popularitas teknologi atau kekhawatiran bahwa kompetitor sudah lebih dulu menggunakannya.
Pertanyaannya tetap sama:
Kita membutuhkan teknologi pada bagian yang benar-benar mempunyai masalah yang layak diselesaikan.
Pertanyaannya tetap sama:
- Apa masalahnya?
- Bagaimana prosesnya sekarang?
- Apa peran AI?
- Apa yang tetap dikendalikan manusia?
- Bagaimana keberhasilannya diukur?
Tanpa pertanyaan tersebut, kita mungkin mempunyai lebih banyak AI tetapi tidak mempunyai bisnis yang lebih baik.
Google mulai memberi kontrol kepada pemilik website
Perkembangan pada 2026 menurut saya sangat penting.
Google memperkenalkan laporan khusus di Search Console untuk melihat visibilitas website dalam fitur generative AI di Search.
Pemilik website dapat melihat antara lain impression, halaman yang muncul, negara, perangkat, serta perubahan visibilitas dari waktu ke waktu.
Google juga memperkenalkan kontrol bagi pemilik website untuk mengatur apakah konten mereka dapat digunakan dalam fitur generative AI seperti AI Overviews dan AI Mode.
Per 31 Agustus 2026, Google menyatakan laporan dan kontrol tersebut telah diperluas secara global.
Regulator dan publisher di Eropa juga mulai memperhatikan bagaimana kontrol tersebut bekerja dan apakah keseimbangan antara Search, AI, publisher, serta platform sudah cukup adil.
Menurut saya ini perkembangan yang sehat.
Pemilik website setidaknya mulai mendapatkan dua hal yang sebelumnya sangat terbatas:
- visibilitas terhadap apa yang terjadi; dan
- pilihan terhadap bagaimana konten digunakan.
Apakah UMKM sebaiknya langsung menolak AI Search?
Saya tidak menyarankannya.
Setidaknya tidak hanya berdasarkan kekhawatiran.
Jika Enoharyz atau sebuah website UMKM mendapat kesempatan muncul di AI Search, saya ingin melihat datanya terlebih dahulu.
- Halaman mana yang muncul?
- Topik apa yang mendapatkan impression?
- Apakah brand ditampilkan secara akurat?
- Apakah pencarian tersebut relevan dengan target pelanggan?
- Apakah trafik organik tradisional berubah?
- Apakah branded search meningkat?
- Apakah leads atau conversion berubah?
Baru setelah itu keputusan dapat dibuat.
Menutup akses hanya karena takut kehilangan klik juga merupakan bentuk keputusan tanpa evidence.
Sebaliknya, membiarkan semuanya aktif hanya karena ingin “masuk AI” juga bukan strategi.
Prinsipnya tetap sama: ukur sebelum menyimpulkan.
Prinsip yang sama berlaku ketika kita mengukur ROI AI untuk UMKM: jangan berhenti pada aktivitas, impression, atau visibilitas, tetapi lihat apakah perubahan tersebut benar-benar memberi nilai bagi bisnis.
Apa yang sebaiknya dilakukan UMKM?
Menurut saya perubahan AI Search justru membuat beberapa fundamental digital menjadi semakin penting.
-
Jadikan website sebagai sumber kebenaran brand.
Informasi tentang bisnis, produk, layanan, harga jika relevan, identitas, kebijakan, pengalaman, dan keahlian harus konsisten dan mudah dipahami.
-
Berhenti bergantung pada konten generik.
Tambahkan pengalaman, evidence, observasi, dan perspektif yang memang berasal dari bisnis Anda.
-
Jangan bergantung hanya pada trafik Google.
Bangun hubungan yang dapat dijangkau kembali secara langsung: pelanggan lama, email jika relevan, WhatsApp dengan izin yang benar, komunitas, atau channel lain yang memang cocok dengan bisnis.
-
Ukur lebih dari ranking.
Pantau impression, klik, branded search, enquiry, leads, dan hasil bisnis yang benar-benar penting bagi usaha. Jika laporan Generative AI tersedia di Search Console, masukkan juga data tersebut ke dalam pengamatan.
-
Jangan mengejar semua tren AI.
Jika sebuah tool atau fitur baru tidak menyelesaikan masalah nyata, UMKM tidak mempunyai kewajiban untuk menggunakannya.
Website masih penting, tetapi fungsinya berubah
Ada pandangan bahwa jika AI semakin mampu menjawab pertanyaan, website tidak akan lagi penting.
Saya tidak sependapat.
Yang mungkin berkurang nilainya adalah website yang hanya menjadi gudang informasi generik.
Website yang berfungsi sebagai rumah brand justru tetap penting.
Di sana bisnis dapat mempunyai:
- identitas sendiri;
- pengalaman sendiri;
- produk sendiri;
- perspektif sendiri;
- bukti sendiri; dan
- hubungan sendiri dengan pelanggan.
Mesin pencari bisa berubah.
Media sosial bisa berubah.
Platform AI bisa berubah.
Tetapi aset digital yang benar-benar kita kendalikan tetap mempunyai fungsi strategis.
Jangan hanya berusaha menjadi sumber AI
Ada risiko baru yang juga perlu dihindari.
Setelah bertahun-tahun mengejar ranking Google, jangan sampai UMKM sekarang sekadar mengganti obsesi tersebut menjadi:
“Bagaimana caranya supaya dikutip AI?”
Menjadi sumber AI bisa bernilai.
Tetapi itu bukan tujuan akhir sebuah bisnis.
Tujuannya tetap sama:
menciptakan nilai untuk pelanggan dan membangun bisnis yang sehat.
AI visibility adalah channel.
SEO adalah channel.
Social media adalah channel.
Bukan bisnis itu sendiri.
Karena itu saya lebih tertarik pada pertanyaan:
- Apakah orang yang menemukan Enoharyz memahami apa yang kami perjuangkan?
- Apakah informasi yang kami berikan membantu mereka mengambil keputusan yang lebih baik?
- Apakah mereka kembali?
- Apakah terbentuk kepercayaan?
- Apakah pengetahuan tersebut benar-benar berguna ketika diterapkan?
Pertanyaan seperti itu menurut saya lebih sehat daripada sekadar mengejar impression.
Menjaga internet yang masih layak ditulisi
Saya tidak tahu seperti apa Google lima atau sepuluh tahun lagi.
Saya juga tidak tahu apakah AI Search akhirnya menjadi cara dominan manusia mencari informasi.
Tetapi ada satu prinsip yang menurut saya tidak berubah.
AI hanya dapat memberikan jawaban berkualitas jika ekosistemnya masih mempunyai sumber berkualitas.
Sumber berkualitas tidak muncul dengan sendirinya.
Ada orang yang melakukan riset.
Ada pemilik bisnis yang mencoba sesuatu.
Ada praktisi yang gagal kemudian belajar.
Ada penulis yang mendokumentasikan pengalaman.
Ada perusahaan yang menerbitkan data.
Ada manusia yang melihat sesuatu yang sebelumnya belum tercatat.
Jika insentif untuk menghasilkan pengetahuan tersebut terus melemah, AI mungkin semakin pintar dalam merangkum masa lalu tetapi mempunyai semakin sedikit hal baru yang layak dirangkum.
Karena itu diskusi tentang AI Search menurut saya bukan sekadar diskusi antara Google dan publisher.
Ini juga relevan bagi UMKM.
Kita semua perlu memikirkan bagaimana teknologi membantu pengguna tanpa menghancurkan insentif pihak yang menciptakan informasi dan pengalaman asli.
Kesimpulan
Saya tidak anti-AI Search.
Saya juga tidak beranggapan bahwa pencarian tradisional harus dipertahankan persis seperti masa lalu.
Perubahan tidak dapat dihindari.
Yang saya pertanyakan adalah bagaimana kita membuat perubahan tersebut tetap menghasilkan pertukaran nilai yang masuk akal.
Bagi UMKM, responsnya bukan panik.
Bukan pula mengikuti semua tren.
Respons yang lebih masuk akal adalah memperkuat apa yang benar-benar kita miliki:
- brand;
- website;
- pengalaman nyata;
- hubungan pelanggan;
- data bisnis; dan
- kemampuan menghasilkan sesuatu yang mempunyai nilai asli.
Gunakan AI untuk membantu.
Tetapi jangan menyerahkan seluruh strategi kepada platform yang aturan mainnya dapat berubah kapan saja.
AI membantu.
Manusia memahami, mengendalikan, dan memutuskan.
Pertanyaan umum tentang AI Search untuk UMKM
Apa itu AI Search?
AI Search adalah pengalaman pencarian yang menggunakan kecerdasan buatan untuk menyusun atau mensintesis jawaban langsung dari berbagai sumber. Pengguna tidak hanya menerima daftar tautan, tetapi juga dapat memperoleh ringkasan jawaban sebelum membuka website sumber.
Apakah AI Search benar-benar menurunkan trafik website?
Ada evidence bahwa AI-generated summary dapat mengubah perilaku klik, tetapi dampaknya tidak sama untuk setiap website, query, industri, atau negara. Karena itu, UMKM sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa AI Search pasti menurunkan trafik. Pantau data website sendiri, termasuk impression, klik, landing page, branded search, dan hasil bisnis.
Apakah UMKM sebaiknya memblokir AI Search?
Tidak otomatis. Keputusan sebaiknya dibuat berdasarkan data, bukan kekhawatiran saja. Periksa apakah website muncul secara akurat, halaman apa yang mendapatkan visibilitas, apakah trafik organik berubah, dan apakah visibilitas tersebut berhubungan dengan branded search, enquiry, lead, atau hasil bisnis lain.
Apakah dikutip AI berarti bisnis mendapat pelanggan?
Tidak. Citation atau mention menunjukkan bahwa sebuah brand atau halaman memperoleh visibilitas, tetapi itu bukan bukti bahwa pengguna menjadi pelanggan. Mention bukan lead, citation bukan sale, dan impression bukan conversion. Nilai bisnis baru dapat dinilai ketika visibilitas tersebut dihubungkan dengan perilaku pengguna dan outcome bisnis.
Konten seperti apa yang masih bernilai di era AI Search?
Konten yang memiliki pengalaman langsung, evidence, eksperimen, data asli, observasi pelanggan, dokumentasi, proses kerja, perbandingan, serta perspektif yang mempunyai alasan cenderung lebih sulit digantikan oleh rangkuman generik. AI dapat membantu menyusun atau menjelaskan informasi tersebut, tetapi sumber pengalaman dan pengetahuannya tetap berasal dari manusia atau bisnis yang menjalankannya.
Apakah SEO masih penting ketika AI Search berkembang?
Masih. Namun keberhasilan tidak sebaiknya hanya diukur dari ranking dan klik. Struktur informasi, relevansi, kualitas sumber, brand, discoverability, pengalaman pengguna, dan hasil bisnis menjadi semakin penting. SEO tetap membantu mesin pencari memahami dan menemukan halaman, sementara pengukuran perlu diperluas ke visibility dan outcome.
Apa bedanya SEO dan AEO untuk UMKM?
SEO berfokus pada bagaimana website dan halaman dapat ditemukan, dipahami, dan ditampilkan dalam sistem pencarian. AEO lebih menekankan bagaimana informasi disusun agar dapat menjawab pertanyaan secara jelas pada berbagai answer surfaces, termasuk pengalaman pencarian berbasis AI. Keduanya saling tumpang tindih dan tidak perlu diperlakukan sebagai dua strategi yang sepenuhnya terpisah.
Apa yang sebaiknya diukur UMKM dari AI Search?
Jangan hanya mengukur apakah website muncul atau dikutip. Pantau rantai nilai secara lebih lengkap, seperti AI visibility atau impression, mention dan citation, klik ke website, branded search, returning visitor, enquiry, lead, conversion, serta akurasi bagaimana brand ditampilkan. Tujuannya adalah mengetahui apakah visibilitas benar-benar memberi nilai bagi bisnis.
Bagaimana dengan bisnis Anda?
Apakah AI Search sudah mengubah cara calon pelanggan menemukan website atau bisnis Anda?
Jika Anda menjalankan UMKM, mengelola website, membuat konten, atau bekerja di bidang SEO dan digital marketing, saya ingin mendengar pengalaman Anda.
Apakah trafik berubah?
Apakah Anda sudah melihat website Anda muncul di AI Overviews atau AI Mode?
Atau justru belum melihat dampak yang berarti?
Silakan bagikan pengalaman Anda di kolom komentar.
Saya ingin diskusi ini dibangun bukan hanya dari prediksi teknologi, tetapi juga dari evidence nyata yang dialami UMKM dan pemilik website.
Sumber dan bacaan terkait
-
Riset independen — Pew Research Center.
Google users are less likely to click on links when an AI summary appears in the results
.
22 Juli 2025.
Studi ini menganalisis 68.879 pencarian Google dari panel 900 pengguna AS dan menjadi sumber data perilaku klik yang dibahas dalam artikel. -
Pernyataan perusahaan — Google.
AI in Search: Driving more queries and higher quality clicks
.
6 Agustus 2025.
Sumber ini digunakan untuk mewakili perspektif Google mengenai volume klik organik, kualitas klik, dan perubahan perilaku pencarian. -
Dokumentasi resmi — Google Search Central.
Introducing Search Generative AI performance reports in Search Console
.
3 Juni 2026; diperbarui dengan rollout global per 31 Agustus 2026.
Dokumentasi mengenai laporan khusus visibilitas website pada fitur generative AI di Google Search. -
Dokumentasi resmi — Google Search Console Help.
Search generative AI control
.
Dokumentasi mengenai kontrol penyertaan link dan konten website dalam AI Overviews, AI Mode, dan fitur generative AI terkait. -
Laporan media — Reuters.
EU antitrust regulators quiz publishers on Google's AI search opt-out
.
1 September 2026.
Laporan mengenai respons publisher dan perhatian regulator Uni Eropa terhadap kontrol AI Search Google.